Article

KEPO : Kelemahan atau Kelebihan?

Pernah dengar seorang teman ngomong sama temen yang lain, tentang kepoisme kayak gini.

“Kepo banget sih kamu!”

“Gak bisa ya, gak terlalu kepo??”

“Kamu dengan kekepoan kamu tuh nyebelin”

 

atau mungkin kata-katanya seperti ini..

“Untung kamu kepo, jadinya info kita yang paling lengkap”

“Karena dia awalnya kepo, jadinya kita bisa saling kenal deh”

“Karena keponya dia, kita jadi ngerti yang dibutuhkan kan?”

 

Nah, jadi kepo itu sebenernya bener atau salah sih? Gimana kalau pendekatan yang kita pakai kali ini, bukan bener atau salah.. tapi lebih cenderung pada tepat atau nggak nya.

Kepo pada dasarnya sebuah rasa ingin tahu, dan keingintahuan bukan sebuah hal yang sifatnya merugikan, bukan? Nah, sebuah keingintahuan ini jadi merugikan atau menguntungkan, sangat tergantung pada beberapa predikat yang menyertai kepoisme itu sendiri.

Faktor-faktor apa aja?

CARA kalimat kepo itu disampaikan

WAKTU kekepoan itu dikatakan

FREKWENSI pertanyaan kepo diajukan

Kalau cara tanyanya “Kamu tadi lagi ngapain sih? Kenapa kamu nggak ngangkat telepon aku tadi?”, itu untuk beberapa orang, bisa jadi “mengganggu”. Salah satu kemungkinan supaya tidak terjadi konflik, adalah dengan mengubah cara bertanyanya, menjadi “kamu lagi sibuk ya? Aku tadi telepon, belum bisa kamu angkat ya?”.

Kalau waktu tanyanya juga nggak diatur. Sebagai contoh, misalnya kita tanya saat yang ditanya sedang kecapean, atau sehabis marah dengan orang lain, tentu saja waktu kita bertanya, apalagi dengan cara yang “kurang tepat” yang dibahas sebelumnya, itu adalah jalan tol menuju konflik sih.

Kalau frekwensi untuk kepo-nya, juga dilakukan sesering mungkin, ini juga bisa membuat lawan bicara kita sebel, apakah disampaikan atau tidak kepada kita (disini maksudnya, bisa aja teman kita yang diam-diam saja terhadap kekepoan kita, sebenernya juga baik-baik aja, belum tentu loh.. yang jelas mereka bisa aja memang memilih diam karena menghindari konflik).

Dan apakah kepo itu tanda perhatian?

Well.. bisa jadi sih.. tapi kebanyakan tidak. Kenapa? Yuk kita pikirin bareng-bareng. Para penganut ajaran kepoisme ini, sebenarnya kalau kita observasi baik-baik, mereka punya kecenderungan untuk menjadi orang yang ramah (sociable). Nah, masalahnya disini..  saking mereka berusaha untuk ramah, hal tersebut membuat orang-orang di sekitarnya merasa terlalu kepo dan mengganggu hak orang lain (intrusive).

Ramah (sociable) sendiri bukan merupakan hal yang salah, namun kalau berlebihan, maka bisa menjadi mengganggu (intrusive). Jadi pendekatannya bukan lagi salah bener, baik/buruk.. tapi selama disampaikan dengan cara yang tepat, waktu yang sesuai, dan frekwensi yang masih dianggap wajar, kepo sebenernya tidak akan merugikan..

Gimana cara yang tepat, waktu yang sesuai, dan frewensi yang wajar?

Jawabannya cuma bisa hasil diskusi dengan teman kita yang keberatan di kepo-in, atau yang kita kepo-in.

  - Kirdi Putra 2018

Instagram narapatihid  Twitter NarapatihID  

 


 

PERCEPTION

Seorang atasan, bicara pada bawahannya, yang ketika menunjukkan hasil kerjanya, tidak sesuai dengan perintah yang diberikan oleh atasannya tersebut..


Kamu boleh bilang “menurut catatan saya ….. “, atau “pak menurut pendapat saya, ……… karena ……… “, maka kita bisa berdiskusi dari situ..

Tapi kalau kamu bilang ke saya, “saya kira ………”, dan bahkan kamu tidak bertanya untuk mengklarifikasi apa yang saya minta kamu lakukan,

Kemungkinannya berarti kamu cuma membuat alasan terhadap hasil kerja kamu, atau nggak ada inisiatif untuk tanya atau mengkomunikasikan.

Pikiran kamu ke saya.. Saya nggak bisa terima kedua-duanya..

Persepsi, boleh beda.. Cukup berikan waktu untuk bertanya sebentar, untuk mengklarifikasi..

masalah beda persepsi bisa dicegah

  - Kirdi Putra 2018

Instagram narapatihid  Twitter NarapatihID  

 


 

DO, MAKE MISTAKES, LEARN, GROW

"Hati-hati, jangan sampai salah..", 
"Awas ya, kalau salah..", 
"Diusahakan jangan ada kesalahan sedikitpun.."
"Kalau bisa bener semua ya, jangan salah.."

Kata-kata yang pernah saya sering ucapkan, pada orang-orang disekitar saya, bahkan pada orang-orang terdekat saya.. Tapi kok ya, lama-lama saya sadar, kalau saya ini manusia biasa.. manusia biasa yang nyuruh orang lain untuk bener semua, tapi saya sendiri melakukan beberapa kesalahan.. berharapnya sempurna, tapi saya sendiri masih banyak kekurangan.. agak kontradiktif kan ya?

Pada akhirnya, saya menyadari kalau "kita adalah manusia", dimana kata-kata ini implikasinya adalah, "namanya manusia, ya pasti akan melakukan kesalahan", iya apa iya? Dan yang paling penting buat saya, pada akhirnya, bukan apakah saya membuat kesalahan atau tidak dalam hidup ini.. tapi apakah saya belajar dari kesalahan yang saya buat, dan menjadi lebih baik ke depannya.

   - Kirdi Putra, 2018 

 

Instagram narapatihid  Twitter NarapatihID  

 


 

DATANG, LIHAT, MENANG BERSAMA-SAMA

Kita semua pasti menyadari, bahwa sebuah organisasi yang kuat, dibangun dari kekuatan tim yang membentuk organisasi tersebut. Perusahaan yang sehat, dibentuk dari kumpulan karyawan yang sehat. Baik sehat secara jasmani maupun rohani.   

Kita juga menyadari bahwa beban kerja, dengan kebutuhan untuk kualitas dan kuantitas yang semakin baik, untuk bisa bersaing di era modern ini, secara langsung maupun tidak langsung, bisa berpengaruh pada tiap individual karyawan di perusahaan tersebut.  

Berbagai tantangan yang muncul perubahan yang terjadi di pekerjaan tersebut, bisa jadi menyebabkan berbagai problematika di kehidupan personal, yang misalnya terkait dengan hubungan dengan pasangan (relationship), hubungan orang-tua anak (parenting), dan berbagai hal sejenis lainnya.

Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Fred Luthans (2004, Nebraska University), dimana salah satu faktor utama yang mempengaruhi kinerja seorang karyawan adalah faktor kebahagiaan. Dalam penelitian ini, juga terlihat hubungan jelas bahwa karyawan dengan kondisi psikologis yang baik, akan  mempengaruhi berbagai aspek kehidupannya secara langsung, baik personal maupun profesional.

Berdasarkan fakta-fakta diatas, telah hadir sebuah program untuk meningkatkan kualitas hubungan personal, antar individu, terkait relationship maupun parenting. Program ini diselenggarakan dalam upaya untuk menjaga kesehatan dan kekuatan kita sebagai karyawan, baik dalam ranah personal maupun profesional.

 

PUTUSKAN UNTUK HADIR, dan dapatkan pembelajaran PENTING  untuk ORANG-ORANG TERPENTING dalam HIDUP KITA..

CALL US FOR INQUIRY

Grha Narapatih, Jl. Paus Dalam No. 37 - Rawamangun Jakarta 13220, Indonesia | Email: info@narapatih.com | Phone: +62 21 - 472 - 1536